Minggu, 15 Desember 2013

Catatan Organisasi 2013

Assalamu’alaikum
Dari diskusi kemarin malam saya mendapatkan beberapa kesimpulan tentang kepemimpinan dan organisasi terutama kepimpinan di FLP Depok.
  1. Sebagai ketua saya harus memahami dan menuruti keinginan anggota asalkan itu baik demi kemajuan FLP itu sendiri. Jangan mempersulit tetapi memudahkan.
  2. Seorang ketua harus bisa mendengarkan keinginan anggotanya, setiap anggota memiliki ide dan pemahamannya masing-masing. Seharusnya seorang ketua bisa menjaga anggotanya yang masih mau bekerja sungguh-sungguh dengan ikhlas untuk kemajuan FLP Depok. Bukannya membuat eneg dan jadi tidak mau terlibat dalam organisasi yang ada:

Seperti yang dikatakan dalam Film "Soekarno", Well jadi pemimpin itu harus pintar menggenggam hati rakyat. Bukan dengan terus menerus mempertanyakan "statusisasi kekuasaan" yang akhirnya bikin rakyat Eneg

3. Masalah organisasi akan menjadi masalah personal jika tidak di manage dengan baik, sehingga akan menyebabkan hubungan silaturahim akan terputus.

4. Tidak ada ketentuan bahwa BPP pusat harus meminta izin kepada organisasi dibawahnya terkait kegiatan yang dijalani, BPP bisa mengambil apapun dari cabang selama berguna untuk kemajuan flp. Namun sebaiknya hal ini tidak terjadi, menurut pandangan saya tetap harus menginformasikan kepada yang berwenang dibawahnya.

5. Sistem kepemimpinan seperti Dahlan Iskan dalam mengelola BUMN akan sangat cocok dengan keadaan FLP Depok yang beragam, setiap divisi memiliki kewenangannya masing-masing untuk mewujudkan cita-cita divisi, yang pada akhirnya berimbas pada kemajuan FLP Depok.

6. Sebagai manusia sebaiknya kita bercermin pada diri sendiri bahwa masih banyak kesalahan yang dilakukan, jangan sibuk mencari kesalahan orang lain.

7. Seorang pemimpin tidak boleh haus akan kekuasaan dan organisasi dan melulu harus disuapin dari anggotanya, seorang pemimpin harus bisa mengemong anggotanya agar bekerja lebih giat lagi.

8. Kata koordinasi sebaiknya dihapuskan saja dalam organisasi FLP Depok karena akan memperkeruh suasana, sebaiknya seorang pemimpin tidak perlu menanyakan layaknya bos dengan bawahan, namun hubunganya lebih antara teman dengan teman.

** Organisasi membuat kita belajar seni mengelola manusia dan berbagai potensinya, sedangkan dunia penulis kita masuk ke sebuah wilayah tanpa batas berbagai macam ide, gagasan dan pemikiran manusia, di sanalah kita belajar menjadi seorang pendengar dan pemerhati ** 

Jejak Jiwa, 15/12/2013

Dengan beberapa catatan tersebut dengan ini saya memutuskan untuk memberikan kewenangan kepada setiap divisi FLP Depok untuk mengambil kebijakan strategis yang penting bagi FLP Depok.

Ke depan saya usahakan tidak akan menanyakan kembali tentang koordinasi, lebih baik kita fokus berkarya dan berkegiatan seperti yang disarankan oleh Zaki kita lebih banyak menulis untuk kolom di website FLP Depok, silakan bagi teman-teman FLP Depok untuk memilih. Fokus menulis, Fokus Kegiatan atau Keduanya. Mudah-mudahan sebagai Ketua saya dapat mengampu semuanya.

Publikasi atau hal lain dari FLP Depok dapat digunakan oleh FLP pusat karena FLP Depok secara historis memang dekat dengan FLP Pusat dan kebanyakan anggotanya yang sukses memegang jabatan strategis di FLP Pusat. Namun, saya tetap menyarankan sebaiknya diberikan sumbernya berasal dari FLP Depok.

Sekiranya ada tambahan yang perlu saya lakukan ke depan, silakan ditambahkan dibawah komen, semoga bisa jadi catatan saya ke depan, agar organisasi FLP Depok bisa berjalan lebih baik.

-Pb-
 16-12-2013

Rabu, 11 Desember 2013

Depok dalam Puisi

Forum Lingkar Pena Cabang Depok kembali mengadakan acara “Depok dalam Puisi”. Alhamdulillah acara ini berhasil diselenggarakan kembali untuk kali kedua. Masyarakat di sekitar Danau UI Depok menjadi saksi pertunjukkan sastra anggota FLP Depok, acara ini bertujuan untuk silaturahim anggota FLP Depok baik yang lama ataupun yang baru. Selain ajang silaturahim dan pengenalan FLP Depok, acara ini juga digunakan sebagai sarana praktek peserta program Batre (Basic Training for Begginer) FLP Depok yang sekarang telah memasuki angkatan ke 12.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan beberapa angkatan FLP Depok dari Batre 8,9,10 dan 12 serta perwakilan senior FLP Depok Lian Kagura yang kini menjabat sebagai anggota Divisi Karya FLP Pusat serta beberapa tamu dari luar FLP Depok, diantaranya ada perwakilan mahasiswa Unindra sekaligus anggota tim nasyid Izzatul Islam, serta Mbak Eva yang merupakan mahasiswa studi Doktoral Jerman yang sedang meneliti tentang FLP.



Acara dibuka oleh Ketua FLP Depok Pekik Bayumukti Utomo yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC) dalam acara tersebut. Seluruh peserta yang hadir dalam acara membacakan puisi pilihannya masing-masing. Khusus anggota baru FLP Depok mereka membacakan puisi buah karya mereka masing-masing.

Acara berlangsung dengan sederhana di bawah pohon di pinggir Danau UI, acara tersebut cukup menyita perhatian masyarakat yang melintas di area Danau UI. Memang dipilihnya Danau UI menjadi lokasi pertunjukan sastra FLP Depok karena lokasinya ramai yang strategis dan mudah di akses oleh anggota FLP Depok. Danau UI juga menyiptakan panorama alam yang cukup indah untuk membangkitkan semangat berkreasi sastra, salah satunya adalah mengapresiasi Puisi.

Ada total sekitar 15 Puisi yang diapresiasi dalam kegiatan ini, diantaranya puisi dari tokoh terkenal seperti WS. Rendra, D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahman dan puisi dari Sutardi C. Bahri serta puisi-puisi baru karya anggota FLP Depok.



Dalam kesempatan tersebut perwakilan dari FLP Pusat Mas Lian Kagura juga memberikan apresiasi terhadap terselenggaranya acara Depok Dalam Puisi ini, karena pada tahun ini FLP sedang berusaha meningkatkan lagi semangat berkarya anggota FLP Depok yang hanya bisa dicapai dengan jalan menulis dan menulis, seperti menulis puisi yang dilakukan teman-teman FLP Depok.

Acara ini InsyaAllah akan menjadi kegiatan  tahunan FLP Depok untuk memperkenalkan sastra kepada masyarakat umum disekitar Depok. Semoga kedepan akan terlahir para sastrawan dan sastrawati baru yang terkenal dan membanggakan bagi FLP Depok


-Pb-

Profil FLP Wilayah Jakarta Raya

Forum Lingkar Pena adalah anugerah Tuhan bagi Indonesia, ujar Taufik Ismail.

Forum Lingkar Pena telah menjadi lokomotif ribuan penulis-penulis muda, pembaca karya anak bangsa, juga pecinta dunia literasi. Forum Lingkar Pena didirikan pada 22 Februari 1997 oleh Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dan Maimon Herawati.
Awalnya, FLP hanya merupakan forum kepenulisan yang berlokasi di Jakarta. Mulai tahun 1998, hingga kini FLP telah memiliki 130 cabang dan wilayah. Termasuk wilayah khusus di negara seperti Amerika, Jepang, Jerman, Inggris, Mesir, Arab Saudi, Malaysia, Australia dll. Jumlah anggotanya mencapai 10.000an.
Anggota FLP beragam, mulai dari anak-anak hingga dewasa, bahkan ada anggota yang berada di usia senja. Ada akademisi lulusan pascasarjana dari universitas-universitas ternama di dunia, tetapi juga para pekerja, buruh, pelajar, mahasiswa. Semuanya bergerak dalam satu cita-cita, menuju Indonesia yang lebih bercahaya dengan budaya cinta baca dan tulis. (bpp flp)

Forum Lingkar Pena Wilayah Jakarta Raya adalah bagian tidak terpisahkan dari FLP. Secara struktural ia berada di bawah FLP Pusat dan menaungi FLP Cabang di seluruh wilayah jakarta raya: 

Ada 5 cabang yang berada di bawah naungan FLP Jaya diantaranya FLP Depok, FLP Bogor, FLP Bekasi, FLP Ciputat dan FLP Jakarta.


Pengajian Sastra: Semangat Baru Berdiskusi Soal Sastra

Apa sih pengajian sastra?, nah mungkin banyak yang belum tahu soal ini. Pengajian sastra adalah program diskusi bulanan yang digagas oleh FLP Wilayah Jakarta Raya pada kepengurusan Mas Sudi Yanto selaku Ketua FLP Wilayah Jakarta Raya periode 2013-2015. Acara ini diadakan pada minggu terakhir setiap bulannya, lokasinya di Ruang Aula Museum Bank Mandiri, jam 09.00 - 12.00 wib. Seperti yang dikatakan Mas Sudi dalam kesempatan pengajian sastra perdana bahwasannya "ini adalah salah satu cara kita memahami sastra, ya dengan mengaji", sebagai penulis kita perlu asupan ilmu-ilmu dari para senior yang lebih sukses dalam bidang sastra lebih dahulu sehingga penulis memiliki pandangan yang lebih luas soal dunia sastra.

Pembicara yang dihadirkan dalam diskusi sastra adalah kolaborasi dari penulis FLP dan penulis non-FLP, jadi pemenuhan akan ilmu yang imbang terkait sastra bisa dinikmati dalam acara ini. 

Pengajian sastra yang digagas oleh FLP Wilayah Jakarta Raya membawa secercah harapan bagi pemuasan akan ilmu bagi para penulis. Terutama saya yang dalam hal ini masih butuh banyak asupan gizi sastra dari tokoh-tokoh sastrawan nasional.

Pengajian sastra juga membawa semangat baru bagi penulis FLP di wilayah jakarta raya untuk berdiskusi soal sastra. 

Pada pengajian sastra perdana dilakukan diskusi soal "Mencintai Bahasa Indonesia dengan Sederhana" menghadirkan Ivan Lanin (editor bahasa indonesia google) dan perwakilan dari Pusat Bahasa Indonesia 

Pada pengajian sastra kedua dilakukan "Diskusi Sastra Profetik" bersama Abdul Hadi WM, Naning Pranoto dan M. Irfan Hidayatullah

Pada pengajian sastra ketiga yang akan berlangsung pada 29 Desember 2013 ini, FLP Wilayah Jakarta Raya kembali menggebrak dengan menghadirkan diskusi yang tak kalah menarik berjudul "Pasang Surut Sastra Indonesia Sebuah Refleksi" bersama Sapardi Djoko Damono, Intan Savitri, dan Putu Fajar Arianto (Redaktur Kompas Minggu)

Semoga saja acara semacam ini dapat terus dilakukan, akan menjadi obat dari kebutuhan para penulis muda untuk memahami sastra lebih dekat langsung dari para ahlinya. So, kita doakan semoga acara ini dapat terus berlangsung dengan baik. Aamiin.

-Pb-



Selasa, 10 Desember 2013

DEPOK NEW GENERATION


Generasi baru penerus organisasi FLP Depok

Oleh: Pekik Bayumukti Utomo

Terlepas dari 6L orang yang datang dan mengisi keseharian di Rumah Cahaya FLP Depok, FLP Depok memiliki potensi untuk mengembangkan diri lebih baik lagi. Secara historis FLP Depok merupakan salah satu FLP yang cukup “disegani” karena dianggap sebagai organisasi yang aktif, keaktifannya terlihat seringnya FLP Depok mempublis kegiatannya seperti yang mas Denny Prabowo pernah ceritakan kepada saya, terlebih lagi dimasa-masa jayanya karya-karya anggota dan pendiri FLP Depok telah dikenal luas, seperti karya-karya dari Pipiet Senja, Denny Prabowo, Koko Nata, Laura Khalida dan anggota lainnya. Rumah Cahaya yang menjadi icon dari FLP Depok dan FLP Pusat sejak dulu telah memberikan sumbangsih bagi kegiatan-kegiatan besar di FLP Depok yang menyentuh lapisan masyarakat, hingga dengan Rumah Cahaya semakin lengkaplah FLP Depok sebagai organisasi yang tidak hanya berkutat pada dunia tulis menulis namun juga organisasi yang mampu berkontribusi bagi masyarakat disekitarnya dalam mengembangkan minat membaca dan menulis.

Sejarah yang baik merupakan motivasi yang baik bagi generasi selanjutnya. Kisah-kisah indah itu menjadi motivasi saya pribadi dalam menjalankan roda organisasi FLP Depok. Dalam awal-awal dipercaya sebagai ketua FLP Depok saya hanyalah alternative terakhir diantara sekian alternatif ketua, dimasa-masa sulit organisasi dimana rasa tidak nyaman dan banyaknya konflik internal yang sulit diredam saya sebagai orang baru dianggap sebagai penetralisir suasana. Sebuah keputusan yang aneh sebenarnya memilih saya yang masih baru menyelesaikan program Batre dan memimpin organisasi sebesar FLP Depok, tapi saat itu mungkin adalah keputusan yang pas untuk meredam konflik yang terjadi. Dan saya melihat setidaknya hingga hampir dua tahun perjalanan organisasi hal itu cukup efektif, teman-teman yang masih aktif di FLP Depok mulai bersemangat membangun kembali organisasi meski dengan tertatih pada awalnya. 

Saya yang awan akan organisasi FLP diberikan keleluasaan untuk membangun FLP Depok ini, saya pribadi tidak memiliki visi misi yang khusus dalam membangun FLP Depok yang terpenting semua berjalan dengan lancar. Ide-ide dari teman-teman seperti Mbak Pita, Mbak Kawa, Mbak Galuh Gilang, Mbak Galuh, Igit, Mas Denny dan lainnya menjadi dasar saya menjalankan organisasi ini. Prinsipnya saya mendukung semua kegiatan-kegiatan yang baik dan dianggap mampu untuk menjalankan organisasi FLP Depok lebih baik lagi. Namun kelemahan saya dalam organisasi FLP menjadi boomerang untuk organisasi ini, kaderisasi yang saya harapkan diawal berjalan dengan baik ternyata hanya baru bisa diselesaikan pada tingkat Muda. Dasar-dasar organisasi FLP seperti Keislaman, Keorganisasian dan Kepenulisan belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kegiatan kaderisasi. Karena memang pada tingkat Muda anggota baru hanya bertumpu pada materi soal kepenulisan. Hingga dampaknya dalam tahun-tahun ini saya sangat kesulitan mencari pengurus yang tangguh seperti Mbak Pita, Mbak Galuh, Mas Denny dan Mas Koko.

Praktis FLP Depok secara organisasi masih belum sehat, walaupun saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh teman-teman FLP Depok di Rumah Cahaya. Rumah Cahaya saat ini bisa dikatakan kondisinya sudah baik terbukti dari terpilihnya Mbak Pita sebagai Koordinator Rumah Cahaya Nasional di FLP Pusat yang mengindikasikan begitu besarnya peran ide-ide kreatif Mbak Pita dalam membangun Rumah Cahaya. Terlebih lagi FLP Depok meraih Anugerah FLP Terpuji yang salah satu penilaiannya dilihat dari keaktifan Rumah Cahaya.

Namun bukan bermaksud merendahkan hasil yang lainnya, Saya masih berharap FLP Depok bisa kembali terbangun dalam dua hal pertama KARYA dan kedua KEGIATAN. Kita sudah baik dalam hal kegiatan tapi dalam KARYA FLP Depok masih minim dan masih belum terbangun kesadaran itu secara organisasi pada awalnya. Kemudian muncullah ide satu karya setiap bulan, setiap anggota yang masih aktif diminta untuk menuliskan apa saja yang bisa ia tuliskan dan dikirimkan ke divisi karya FLP Depok yang sekarang dipegang oleh Yaya Suryana. Dan muncullah banyak pro dan kontra terhadap keputusan baru tersebut, kemudian saya disadarkan kembali oleh Mas Denny dan Kak Koko bahwa pada dasarnya kita harus membangun KADERISASI yang kuat dahulu, dengan kaderisasi yang kuat anggota sudah terlatih untuk mengusai TIGA LANDASAN ORGANISASI FLP yaitu KEISLAMAN, KEORGANISASIAN dan KEPENULISAN sehingga tulisan dan organisasi bukanlah jadi masalah lagi bagi FLP Depok.

Depok New Generation (saya menyebutnya seperti itu), Saya mencari titik dimana saya harus memulai kembali membangun KADERISASI FLP DEPOK. Permasalahan kaderisasi terdeteksi dari sejak BATRE 8 sampai sekarang dimana program INTRE tidak tuntas terlaksana. Oleh karena itu sejak arahan dari Mas Denny dan Mas Koko saya mengambil inisiatif memulai kembali program INTRE. Dengan bekal buku panduan kaderisasi dan bantuan dari para senior saya mengharapkan program BATRE, INTRE dan selanjutnya bisa berjalan dengan baik. Hingga akan tercipta KADER-KADER FLP yang mengerti akan KEISLAMAN, KEORGANISASIAN dan KEPENULISAN. Sehingga pelan-pelan FLP Depok bisa terbangun kembali baik dari segi KARYA ataupun KEGIATANnya.

Saya berharap akan lahir penulis-penulis hebat di FLP Depok yang tidak hanya bisa menulis tapi juga mampu membangun ORGANISASI terutama bagi yang sudah menyandang predikat MADYA dan ANDAL (saya masuk ke FLP Depok mungkin sama seperti yang lain pada awalnya ingin belajar menulis dan bisa menerbitkan karya yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak) tapi inilah organisasi pilar-pilarnya harus tetap kuat dan diisi oleh orang-orang yang kuat juga agar organisasi ini bisa berjalan dengan baik pada jalurnya dan terus menebarkan manfaat.

Depok New Generation, semoga kedepan tidak hanya nama Pipiet Senja, Denny Prabowo, Koko Nata, Orin Keren, Noor H Dee, Laura Khalida atau senior lainnya yang dikenal karyanya tapi juga ada Yaya Suryana, De Pita, Ghozy Rizal, Galuh Kencono Wulan (kalau Mbak Galuh udah oke karyanya :p), Pekik Bayumukti Utomo, Git’s Rizal, Gilang Satria Perdana, Nindi Fanswari, Azhar Firdaus, Abdul Hady Hasan Al- Harisyi, Mak Long Ayu, Cahaya Mata, Yunita Jasmine, Ades, Melvin, Farid Wijaya dan teman-teman lainnya.

Semoga langkah-langkah kita dimudahkan dalam memperbaiki organisasi FLP Depok ke depan. Sehingga FLP Depok tidak hanya dikenal Rumah Cahayanya tetapi juga karyanya.

Salam.
Pekik Bayumukti Utomo 
(Ketua paling unyu)

Tubuh Organisasi


Tidak ada yang mau menjadi kaki, semua orang berlomba menjadi kepala. Kepala tidak berfungsi sebagaimana kepala. Kaki ingin berubah jadi kepala. Tangan ingin berubah jadi kepala. Padahal tanpa kaki kepala hanyalah kepala. Tanpa tangan kepala hanyalah kepala. Tanpa sesuatu bernama kaki (meski itu kaki buatan) kepala tidak akan bisa pergi kemana-mana. Kepala hanya berdiam pada tempatnya. Tanpa sesuatu bernama tangan (meski itu tangan buatan) kepala tidak akan bisa menggenggam sesuatu dengan baik.

Persepsi bagi sebagian besar orang, kepala adalah raja, kaki adalah bawahan, karena kepala bertugas berpikir, kaki hanya diperintahkan oleh kepala untuk berjalan. Mungkin untuk persepsi individu ada baiknya, karena hal tersebut akan menimbulkan motivasi yang tinggi untuk berusaha lebih baik. Tapi yang jadi permasalahan adalah ketika kita hidup dalam sebuah organisasi. 

Bagaimana jadinya sebuah organisasi jika semua orang adalah kepalanya. Tidak ada yang menjadi tangan, badan, atau kaki. Kepala-kepala itu hanyalah sekumpulan kepala. Semuanya memiliki ide tapi ide itu hanya mengendap di kepala. Tapi ada juga kondisi yang aneh, karena semua orang ingin jadi kepala. Kepala itu memunculkan tangan dan kakinya masing-masing. Menjadi makhluk yang memiliki kepala besar tapi tangan yang kecil untuk menggenggam, kaki yang kecil untuk berjalan.
Semua kepala-kepala itu berusaha berlari. Menebar ide-idenya masing-masing. Bagi kepala yang kuat mungkin dia bisa memaksakan kaki dan tangannya yang kecil itu untuk berlari dan menggenggam. Tapi yang lebih parah karena tidak kuat berlari sendirian sebagian kepala memilih memejamkan mata, kemudian menginginkan esok pagi kepala itu mendapatkan makan dan kebahagiaan dari kepala-kepala yang berlari lainnya.

Bayangkan jika kepala tersebut punya tangan yang lebih sempurna, kaki yang lebih sempurna. Akan terlihat makhluk yang sempurna. Makhluk itu mungkin tidak akan kesulitan untuk berjalan dan menggengam. 

Demi tercapai tujuan umat atau anggota yang lebih luas, semua orang dalam organisasi harus bersatu padu, kecuali mungkin bagi mereka yang tidak peduli lagi atau merasa tidak mendapatkan manfaat dari berjalannya organisasi. Ya mungkin kita harus bertanya kembali kedalam diri, apa yang kita harapkan dari sebuah organisasi, jika memang itu tidak sesuai kenapa kita tidak segera memutuskan untuk berhenti. Hidup adalah sebuah pilihan dan tidak ada yang bisa melarang pilihan hidupnya. Tapi ketika kita sudah masuk dalam organisasi dan mulai mengambil manfaat dari organisasi tersebut baik langsung ataupun tidak, apakah pantas kita hanya jadi benalu saja dalam organisasi. Mengambil yang diperlukan untuk kebahagiaan dirinya saja. Hanya kepala kita yang bisa menjawabnya.

Sebuah organisasi layaknya sebuah tubuh, perlu kepala yang sehat, tangan yang sehat dan kaki yang sehat, agar dia bisa disebut sebuah makhluk yang utuh. Makhluk yang bisa bekerja lebih baik dengan lebih sempurna walau terkadang juga bisa salah.

-Pb-

Tupoksi Pengurus FLP Depok (DEPOK NEW GENERATION)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Demi mewujudkan Generasi Baru FLP Depok 2013/2015 berikut saya sampaikan tupoksi pengurus FLP Depok. Dengan tetap memperhatikan Visi dan Misi FLP :
(1) FLP memiliki visi untuk menjadi sebuah organisasi yang memberikan pencerahan melalui tulisan.
(2) FLP memiliki misi:
  1. Meningkatkan mutu dan produktivitas karya anggota sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat.
  2. Membangun jaringan penulis yang menghasilkan karya-karya berkualitas dan mencerdaskan.
  3. Meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat.
  4. Memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi penulis.

Maka FLP Depok mewujudkan hal tersebut melalui visi misi dan tupoksi sebagai berikut:

VISI:  Generasi Baru FLP Depok (Depok New Generation)
Misi:
  1. Pembenahan sistem Kaderisasi FLP Depok
  2. Pembenahan Data base dan karya anggota FLP Depok
  3. Penguatan program Rumah Cahaya baik sosial ataupun profit.
  4. Penguatan Media Informasi FLP Depok
  5. Konsolidasi pengurus dalam setiap kegiatan, dan melaksanakan Musyawarah Pengurus FLP setiap 3 bulan sekali

Tugas Pengurus

Ketua:
  1. Bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan FLP Depok.
  2. Bertanggungjawab terhadap kerjasama strategis dan hubungan eksternal dengan pihak luar.
  3. Mengawasi Program Kerja Pengurus dan memiliki hak untuk meminta laporan pertanggungjawaban dari pengurus.
  4. Memiliki hak untuk mengadakan Rapat Pengurus baik atas inisiatif pribadi atau usulan dari pengurus untuk membahas hal-hal terkait kegiatan FLP Depok.
  5. Memimpin Musyawarah Pengurus FLP Depok setiap 3 bulan sekali.

Sekretaris:
  1. Membuat aturan untuk seluruh kegiatan administrasi FLP Depok
  2. Melaksanakan fungsi administrasi dalam hal surat menyurat dan rangkuman rapat FLP Depok
  3. Mengumpulkan dan mengupdate database dan karya anggota FLP Depok
  4. Bertanggungjawab kepada Ketua FLP Depok

Bendahara:
  1. Membuat aturan terkait keuangan FLP Depok, aturan keuangan dibahas dalam  Rapat Pengurus dan dipertanggungjawabkan pada saat Musyawarah Pengurus FLP
  2. Melaksanakan tata keuangan terhadap seluruh kegiatan FLP Depok
  3. Memastikan seluruh anggota FLP Depok membayar iuran yang telah ditetapkan.
  4. Bendahara berhak meminta pertanggungjawaban terkait penggunaan dana FLP Depok
  5. Bendahara bertanggungjawab kepada Ketua FLP Depok

Divisi Kaderisasi :
  1. Menjalankan alur kaderisasi dari Pramuda, Muda, Madya, Andal melalui program BATRE, INTRE dan ANTRE
  2. Membuat program yang membangkitkan motivasi menulis bagi anggota FLP seperti proyek buku atau kegiatan menulis lainnya.
  3. Bertanggungjawab kepada Ketua FLP Depok

Divisi Rumah Cahaya
  1. Menjalankan program sosial yang bermanfaat bagi masyarakat
  2. Menjalankan program profit yang menguntungkan FLP Depok secara finansial baik untuk anak-anak ataupun dewasa.
  3. Membuat aturan terkait penggunaan asset Rumah Cahaya FLP Depok.
  4. Membangun kesadaran membaca dan menulis melalui Perpustakaan Rumah Cahaya FLP Depok.
  5. Bertanggungjawab kepada Ketua FLP Depok.
Divisi Humas

    1. Membangun komunikasi FLP Depok dengan FLP Wilayah Jakarta Raya dan Pusat
    2. Melaksanakan fungsi Informasi kegiatan dan karya anggota FLP Depok

Puisi Pekik dalam buku Puisi S2 Gue at Alinea TV

Puisi dan Dongeng dari FLP Depok at Alinea TV 


Kaderisasi FLP

Forum Lingkar Pena adalah organisasi pengkaderan penulis, jadi bukan hanya organisasi perkumpulan penulis saja. Ada tahapan yang harus dilalui masing-masing anggota untuk menjadi anggota FLP yaitu tahapan KADERISASI.
Seperti kita ketahui bersama FLP memiliki jenjang keanggotaan yaitu MUDA, MADYA, ANDAL. Adanya jenjang keanggotaan tersebut tujuannya untuk menguatkan 3 pilar FLP yaitu Keislaman, Kepenulisan, Organisasi.
Anggota yang dinyatakan lolos Madya memiliki kewajiban untuk melatih/mendampingi anggota yang ada dibawahnya (MUDA) untuk bisa terus berkarya dalam rangka kaderisasi. Begitu juga Andal terhadap anggota Madya dan Muda.
Jadi posisi Madya ataupun Andal bukan untuk gaya-gayaan atau menguatkan citra penulis, tapi ada beban dan tanggung jawab yang harus dipikul yaitu mampu atau mau ikut berkontribusi memajukan FLP dalam dunia kepenulisan melalui 3 Pilar utamanya Keislaman, Kepenulisan dan Keorganisasian.
Untuk anggota MUDA dalam Munas terakhir kemarin di Bali tidak dibebankan dengan kewajiban ini karena memang anggota MUDA tidak dituntut untuk memahami soal keorganisasian dan keislaman FLP, dan juga anggota muda tidak diberikan kewajiban untuk berbagi/mengkader anggota dibawahnya (sesama MUDA). Jadi bisa saja nanti ada anggota yang selalu dalam posisi MUDA, jika memang tidak minat untuk mengembangkan organisasi FLP dari segi Keorganisasian, Kepenulisan dan Keislamannya. Namun tetap menjadi bagian dari FLP yang selalu MUDA.
Salam.

Catatan kecil di Rumah Cahaya

By Pekik Bayumukti Utomo on Thursday, September 8, 2011 at 2:54pm
Kamis, 8 September 2011
Rumah Cahaya. Seperti hari sebelumnya, pengunjung Rumah Cahaya belum terlalu banyak, selama satu hari penuh baru empat orang yang berkunjung kedalamnya. Mungkin masih dampak libur lebaran. Namun pengunjungnya lumayan beragam, dari mulai tukang pos, anak-anak, sampai mahasiswi. Tujuannya juga macam-macam ada yang cuma mampir mengantarkan surat, ada yang ingin bermain, dan ada juga yang tertarik ingin membaca buku-buku koleksi Rumah Cahaya.
Mahasiswi yang berkunjung sepertinya sangat antusias untuk membaca buku-buku koleksi Rumah Cahaya begitupun anak-anak yang datang ke Rumah Cahaya sangat antusias untuk membaca buku-buku koleksi Rumah Cahaya. Melihat hal tersebut saya jadi membayangkan perpustakaan kampus saya, banyak mahasiswa yang lalu lalang setiap harinya untuk mencari literatur atau sekedar membaca buku dan jumlahnya tidak satu dua, bahkan ratusan orang bergantian lalu lalang setiap harinya.Tapi kalau suatu saat Rumah Cahaya dikunjungi ratusan orang sekaligus, sepertinya akan sesak ruangan lantai atas Rumah Cahaya ini (hoho..). .
Kalau melihat anak-anak yang berkunjung di Rumah Cahaya sepertinya mereka butuh ruangan untuk bermain selain membaca buku, tentunya mainan yang edukatif.. hmm.. mungkin suatu saat ada donator yang akan menyumbangkan tempat bermain edukatif di dalam Rumah Cahaya.
Melihat antusiasme yang tinggi dari mahasiswi dan anak-anak yang berkunjung, tentunya menjadi suatu indikator bahwa sarana belajar dan perpustakaan umum masih dibutuhkan masyarakat. Sosialisasi keberadaan Rumah Cahaya semestinya lebih ditingkatkan, agar masyarakat yang membutuhkan bahan bacaan yang bermutu dapat lebih terwadahi.
Nampaknya tinggal menunggu waktu saja Rumah Cahaya dikunjungi ratusan orang setiap harinya. Tapi butuh kerja ekstra dari pengelola untuk mempersiapkan itu semua sebelum benar-benar terjadi. Peran dari FLP yang juga ikut andil besar dalam terbentuknya Rumah Cahaya menjadi bagian penting juga untuk mensosialisasikan taman baca dan karya ini..
Ingin sekali rasanya Rumah Cahaya dikunjungi ratusan orang setiap harinya. Mudah-mudahan suatu saat nanti.
-Pb-

Semangat Dan Takdir

By Pekik Bayumukti Utomo on Tuesday, September 6, 2011 at 4:53am


Senin, 5 September 2011
Hari ini aku belajar kembali tentang arti sebuah semangat dan takdir, perasaan ini kualami setelah aku mengobrol dengan seorang bapak yang memang telah merencanakan datang ke FLP Depok. Bagiku kisahnya sangat menarik, dan sayang jika tidak dibagi. Beliau sudah berencana jauh-jauh hari untuk mencari keberadaan Forum Lingkar Pena. Niatan awalnya muncul ketika beliau melihat Koran kompas yang disana tertera informasi tentang FLP.
Beliau tertarik dengan Forum Lingkar Pena karena beliau ingin mengembangkan hobinya menulis sebuah puisi, beliau ingin mengetahui bagaimana agar puisi itu dapat dikembangkan dengan lebih bagus. Karena puisi yang dibuat beliau selama ini, menurut beliau minim kosakata dan masih sederhana. Oleh karena itu, ketika melihat Forum kepenulisan seperti FLP yang katanya dapat mengembangkan kepenulisan anggotanya beliau tertarik untuk mencari keberadaan Forum ini.
Aksinya beliau mulai saat beliau berusaha untuk menghubungi bagian redaksi kompas dan menanyakan alamat Forum Lingkar Pena Depok, usaha beliau memang keras untuk mencari alamat FLP depok sampai-sampai menanyakan langsung ke Redaksi Kompas. Ketika di Telepon redaksi Kompas tidak begitu mengetahui alamat pasti FLP Depok yang mereka tahu hanyalah alamat Rumah Cahaya yang notabene memang menjadi secretariat FLP Depok, tapi redaksi yang ditanya beliau tidak tahu pasti alamat FLP Depok. Akhirnya setelah pembicaraan panjang dengan redaksi Kompas, beliau mendapatkan alamat Rumah Cahaya, namun dalam hati beliau ingin mencari alamat FLP depok. Beliau tidak kecewa dengan usahanya, namun ketika beliau hendak mencari alamat Rumah Cahaya ternyata kertas tulisan alamat itu hilang. Ditambah lagi banyak kegiatan yang memperlambat usahanya mencari alamat rumah cahaya.
Akhirnya keinginan mencari alamat itu beliau hentikan sejenak sampai suatu ketika ketika bulan Ramadhan beliau pulang ke rumahnya dan menemukan buku FLP yang sudah ia beli 3 tahun yang lalu, namun beliau tidak tahu ternyata itu buku terbitan LPPH, beliau hanya membacanya sekilas ketika pertama kali membelinya dan tidak melihat ada logo FLP didalamnya. Ketika Ramadhan kemarin beliau menemukan buku itu, beliau kembali teringat usahanya untuk mencari alamat FLP. Karena alamat Rumah Cahaya yang diberikan redaksi Kompas hilang, beliau beralih mencari alamat LPPH.
Beliau mencari alamat yang tertera pada buku. Alamat yang beliau dapatkan adalah alamat LPPH diwilayah Duren Sawit. Dengan menggunakan motor kesayangannya beliau berkeliling di daerah Duren Sawit namun orang sekitar yang ditanyakan alamat LPPH tidak mengetahui keberadaan LPPH. Beliau berkeliling dan terus mencari alamat LPPH hingga akhirnya beliau pulang tanpa hasil apa-apa.
Kemudian setelah berusaha mencari tanpa hasil yang memuaskan, beliau meminta kepada rekannya yang ahli computer (internet) untuk mencari keberadaan FLP di wilayah JABODETABEK, wal hasil beliau mendapatkan alamat beberapa FLP yaitu Bekasi, Duren Sawit dan Depok.
Beliau memilih FLP Depok yang keberadaan dekat dengan rumah beliau, kemudian beliau menelepon ke CP yang tertera pada website tersebut. Dan ternyata nomer tersebut aktif namun sayang beliau tidak sempat atau lupa menanyakan nama orang yang ditelepon. Namun jawaban yang didapat dari CP tersebut beliau akan diinfokan jika ada kegiatan lagi di FLP Depok.
Usaha beliau tidak sampai disitu saja, setelah mencari lagi akhirnya beliau mendapatkan alamat Rumah Cahaya dan secretariat FLP Depok yang terletak di daerah depok II jalan keadilan Raya. Setelah dapat beliau memutuskan untuk segera mencari alamat yang dimaksud.
Malamnya, sehari sebelum beliau datang ke Rumah Cahaya beliau bermimpi menuju Rumah Cahaya namun dalam mimpinya Rumah Cahaya adalah salon tempat potong rambut. Beliau disana bertemu dengan Tante-tante yang menanyakan maksud kedatangan beliau ke Rumah Cahaya ini. Dalam mimpinya beliau menanyakan “apakah disini tempat untuk belajar menulis?” tapi tante-tante itu menjawab ini bukan tempat menulis, ini salon kecantikan. Bapak mau di creambath atau di potong rambutnya. (Saya yang mendengarkan kisah dari beliau tertawa terbahak-bahak… :D ) Apalagi beliau dalam mimpinya bertemu dengan seorang ibu-ibu yang menurut beliau suka sama beliau dan menanyakan kepada beliau “Kenapa tidak jadi teman facebook saya?” setelah ditanyakan ini itu beliau jadi pusing didalam mimpinya padahal niatan dalam mimpinya beliau ingin menuju Rumah Cahaya tempat belajar menulis bukan salon. Akhirnya beliau tersadar dari mimpinya.
Walaupun semalam telah mengalami mimpi yang cukup aneh, beliau tetap menguatkan tekad untuk mencari alamat Rumah Cahaya dan Sekretariat FLP Depok. Dengan menggunakan motor, beliau melalui jalan yang sangat berliku, karena beliau sama sekali belum kenal daerah dimana alamat Rumah Cahaya berada. Beliau menanyakan keberadaan Rumah Cahaya dan FLP Depok kepada orang yang tinggal dijalan keadilan Raya, namun anehnya tidak ada yang mengetahui alamat yang dimaksud, beliau Tanya tukang becak katanya tidak tahu, beliau Tanya pemilik warteg katanya tidak tahu, beliau padahal sudah berputar-putar di depan Ruko Rumah Cahaya, tapi tidak ada orang yang tahu keberadaan Rumah Cahaya atau Sekretariat FLP Depok. Ketika hamper putus asa, beliau beristirahat disamping Ruko dan menanyakan kepada Bapak-bapak yang sedang duduk disampingnya tentang alamat Rumah Cahaya. “Loh Ruko yang bapak maksud itu ya ini.. ini Rumah Cahaya “ kata salah satu bapak yang menjawab pertanyaan beliau. Alhamdulillah, akhirnya beliau sampai juga di Rumah Cahaya setelah tadi sempat berputar-putar dan sempat ingin menyerah mencari alamat Rumah Cahaya.
Namun kebingungannya tidak sampai disitu setelah beliau memarkirkan motornya di Rumah Cahaya beliau masuk ke Ruko bawah dan menanyakan “Apakah disini secretariat FLP Depok?” , ternyata beliau baru tahu bahwa secretariat FLP depok ada dilantai atas Ruko Rumah Cahaya bukan dibawah. Dengan tampang kelelahan dan sedikit kebingungan takut kalau salah alamat lagi beliau akhirnya sampai di sekretariat Rumah Cahaya bertemu dengan kami yang kebetulan sedang berada disana (Aku, Mba Bening dan Mba Pita). Dan beliau menanyakan kepada kami bagaimana caranya bergabung menjadi Anggota FLP. Akhirnya beliau bisa sharing dengan kami di Rumah Cahaya yang ia cari-cari sekian lama hingga jatuh bangun. Ketika itu mba pita menjelaskan tentang recruitment anggota baru, yang lucu ketika beliau diterangkan oleh mba Pita tentang BATRE beliau selalu menyebut BATRE dengan nama BATU CAS… :D.
Dari pengalaman beliau mencari Alamat FLP, Aku kembali tersadarkan tentang arti sebuah semangat dan Takdir. Semua telah digariskan Yang Maha Kuasa. Adanya kita disini dan dimana kita nanti telah ditulis jelas olehNya. Manusia hanya bisa berusaha dan mengusahakan yang terbaik. Semangat Pak Reddy semoga bisa ikut BATRE 10.

Hidup BATU CAS!!
Salam Pekik Bayumukti Utomo.. ^_^