Tidak ada yang mau menjadi kaki, semua orang berlomba menjadi kepala. Kepala tidak berfungsi sebagaimana kepala. Kaki ingin berubah jadi kepala. Tangan ingin berubah jadi kepala. Padahal tanpa kaki kepala hanyalah kepala. Tanpa tangan kepala hanyalah kepala. Tanpa sesuatu bernama kaki (meski itu kaki buatan) kepala tidak akan bisa pergi kemana-mana. Kepala hanya berdiam pada tempatnya. Tanpa sesuatu bernama tangan (meski itu tangan buatan) kepala tidak akan bisa menggenggam sesuatu dengan baik.
Persepsi bagi sebagian besar orang, kepala adalah raja, kaki adalah bawahan, karena kepala bertugas berpikir, kaki hanya diperintahkan oleh kepala untuk berjalan. Mungkin untuk persepsi individu ada baiknya, karena hal tersebut akan menimbulkan motivasi yang tinggi untuk berusaha lebih baik. Tapi yang jadi permasalahan adalah ketika kita hidup dalam sebuah organisasi.
Bagaimana jadinya sebuah organisasi jika semua orang adalah kepalanya. Tidak ada yang menjadi tangan, badan, atau kaki. Kepala-kepala itu hanyalah sekumpulan kepala. Semuanya memiliki ide tapi ide itu hanya mengendap di kepala. Tapi ada juga kondisi yang aneh, karena semua orang ingin jadi kepala. Kepala itu memunculkan tangan dan kakinya masing-masing. Menjadi makhluk yang memiliki kepala besar tapi tangan yang kecil untuk menggenggam, kaki yang kecil untuk berjalan.
Semua kepala-kepala itu berusaha berlari. Menebar ide-idenya masing-masing. Bagi kepala yang kuat mungkin dia bisa memaksakan kaki dan tangannya yang kecil itu untuk berlari dan menggenggam. Tapi yang lebih parah karena tidak kuat berlari sendirian sebagian kepala memilih memejamkan mata, kemudian menginginkan esok pagi kepala itu mendapatkan makan dan kebahagiaan dari kepala-kepala yang berlari lainnya.
Bayangkan jika kepala tersebut punya tangan yang lebih sempurna, kaki yang lebih sempurna. Akan terlihat makhluk yang sempurna. Makhluk itu mungkin tidak akan kesulitan untuk berjalan dan menggengam.
Demi tercapai tujuan umat atau anggota yang lebih luas, semua orang dalam organisasi harus bersatu padu, kecuali mungkin bagi mereka yang tidak peduli lagi atau merasa tidak mendapatkan manfaat dari berjalannya organisasi. Ya mungkin kita harus bertanya kembali kedalam diri, apa yang kita harapkan dari sebuah organisasi, jika memang itu tidak sesuai kenapa kita tidak segera memutuskan untuk berhenti. Hidup adalah sebuah pilihan dan tidak ada yang bisa melarang pilihan hidupnya. Tapi ketika kita sudah masuk dalam organisasi dan mulai mengambil manfaat dari organisasi tersebut baik langsung ataupun tidak, apakah pantas kita hanya jadi benalu saja dalam organisasi. Mengambil yang diperlukan untuk kebahagiaan dirinya saja. Hanya kepala kita yang bisa menjawabnya.
Sebuah organisasi layaknya sebuah tubuh, perlu kepala yang sehat, tangan yang sehat dan kaki yang sehat, agar dia bisa disebut sebuah makhluk yang utuh. Makhluk yang bisa bekerja lebih baik dengan lebih sempurna walau terkadang juga bisa salah.
-Pb-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar