Puisi dan Dongeng dari FLP Depok at Alinea TV
Informasi dan beberapa tulisan curahan hati soal FLP dan Rumah Cahaya oleh Pekik BU.
Selasa, 10 Desember 2013
Kaderisasi FLP
Forum Lingkar Pena adalah organisasi pengkaderan penulis, jadi bukan hanya organisasi perkumpulan penulis saja. Ada tahapan yang harus dilalui masing-masing anggota untuk menjadi anggota FLP yaitu tahapan KADERISASI.
Seperti kita ketahui bersama FLP memiliki jenjang keanggotaan yaitu MUDA, MADYA, ANDAL. Adanya jenjang keanggotaan tersebut tujuannya untuk menguatkan 3 pilar FLP yaitu Keislaman, Kepenulisan, Organisasi.
Anggota yang dinyatakan lolos Madya memiliki kewajiban untuk melatih/mendampingi anggota yang ada dibawahnya (MUDA) untuk bisa terus berkarya dalam rangka kaderisasi. Begitu juga Andal terhadap anggota Madya dan Muda.
Jadi posisi Madya ataupun Andal bukan untuk gaya-gayaan atau menguatkan citra penulis, tapi ada beban dan tanggung jawab yang harus dipikul yaitu mampu atau mau ikut berkontribusi memajukan FLP dalam dunia kepenulisan melalui 3 Pilar utamanya Keislaman, Kepenulisan dan Keorganisasian.
Untuk anggota MUDA dalam Munas terakhir kemarin di Bali tidak dibebankan dengan kewajiban ini karena memang anggota MUDA tidak dituntut untuk memahami soal keorganisasian dan keislaman FLP, dan juga anggota muda tidak diberikan kewajiban untuk berbagi/mengkader anggota dibawahnya (sesama MUDA). Jadi bisa saja nanti ada anggota yang selalu dalam posisi MUDA, jika memang tidak minat untuk mengembangkan organisasi FLP dari segi Keorganisasian, Kepenulisan dan Keislamannya. Namun tetap menjadi bagian dari FLP yang selalu MUDA.
Salam.
Catatan kecil di Rumah Cahaya
By Pekik Bayumukti Utomo on Thursday, September 8, 2011 at 2:54pm
Kamis, 8 September 2011
Rumah Cahaya. Seperti hari sebelumnya, pengunjung Rumah Cahaya belum terlalu banyak, selama satu hari penuh baru empat orang yang berkunjung kedalamnya. Mungkin masih dampak libur lebaran. Namun pengunjungnya lumayan beragam, dari mulai tukang pos, anak-anak, sampai mahasiswi. Tujuannya juga macam-macam ada yang cuma mampir mengantarkan surat, ada yang ingin bermain, dan ada juga yang tertarik ingin membaca buku-buku koleksi Rumah Cahaya.
Mahasiswi yang berkunjung sepertinya sangat antusias untuk membaca buku-buku koleksi Rumah Cahaya begitupun anak-anak yang datang ke Rumah Cahaya sangat antusias untuk membaca buku-buku koleksi Rumah Cahaya. Melihat hal tersebut saya jadi membayangkan perpustakaan kampus saya, banyak mahasiswa yang lalu lalang setiap harinya untuk mencari literatur atau sekedar membaca buku dan jumlahnya tidak satu dua, bahkan ratusan orang bergantian lalu lalang setiap harinya.Tapi kalau suatu saat Rumah Cahaya dikunjungi ratusan orang sekaligus, sepertinya akan sesak ruangan lantai atas Rumah Cahaya ini (hoho..). .
Kalau melihat anak-anak yang berkunjung di Rumah Cahaya sepertinya mereka butuh ruangan untuk bermain selain membaca buku, tentunya mainan yang edukatif.. hmm.. mungkin suatu saat ada donator yang akan menyumbangkan tempat bermain edukatif di dalam Rumah Cahaya.
Melihat antusiasme yang tinggi dari mahasiswi dan anak-anak yang berkunjung, tentunya menjadi suatu indikator bahwa sarana belajar dan perpustakaan umum masih dibutuhkan masyarakat. Sosialisasi keberadaan Rumah Cahaya semestinya lebih ditingkatkan, agar masyarakat yang membutuhkan bahan bacaan yang bermutu dapat lebih terwadahi.
Nampaknya tinggal menunggu waktu saja Rumah Cahaya dikunjungi ratusan orang setiap harinya. Tapi butuh kerja ekstra dari pengelola untuk mempersiapkan itu semua sebelum benar-benar terjadi. Peran dari FLP yang juga ikut andil besar dalam terbentuknya Rumah Cahaya menjadi bagian penting juga untuk mensosialisasikan taman baca dan karya ini..
Ingin sekali rasanya Rumah Cahaya dikunjungi ratusan orang setiap harinya. Mudah-mudahan suatu saat nanti.
-Pb-
Semangat Dan Takdir
By Pekik Bayumukti Utomo on Tuesday, September 6, 2011 at 4:53am
Senin, 5 September 2011
Hari ini aku belajar kembali tentang arti sebuah semangat dan takdir, perasaan ini kualami setelah aku mengobrol dengan seorang bapak yang memang telah merencanakan datang ke FLP Depok. Bagiku kisahnya sangat menarik, dan sayang jika tidak dibagi. Beliau sudah berencana jauh-jauh hari untuk mencari keberadaan Forum Lingkar Pena. Niatan awalnya muncul ketika beliau melihat Koran kompas yang disana tertera informasi tentang FLP.
Beliau tertarik dengan Forum Lingkar Pena karena beliau ingin mengembangkan hobinya menulis sebuah puisi, beliau ingin mengetahui bagaimana agar puisi itu dapat dikembangkan dengan lebih bagus. Karena puisi yang dibuat beliau selama ini, menurut beliau minim kosakata dan masih sederhana. Oleh karena itu, ketika melihat Forum kepenulisan seperti FLP yang katanya dapat mengembangkan kepenulisan anggotanya beliau tertarik untuk mencari keberadaan Forum ini.
Aksinya beliau mulai saat beliau berusaha untuk menghubungi bagian redaksi kompas dan menanyakan alamat Forum Lingkar Pena Depok, usaha beliau memang keras untuk mencari alamat FLP depok sampai-sampai menanyakan langsung ke Redaksi Kompas. Ketika di Telepon redaksi Kompas tidak begitu mengetahui alamat pasti FLP Depok yang mereka tahu hanyalah alamat Rumah Cahaya yang notabene memang menjadi secretariat FLP Depok, tapi redaksi yang ditanya beliau tidak tahu pasti alamat FLP Depok. Akhirnya setelah pembicaraan panjang dengan redaksi Kompas, beliau mendapatkan alamat Rumah Cahaya, namun dalam hati beliau ingin mencari alamat FLP depok. Beliau tidak kecewa dengan usahanya, namun ketika beliau hendak mencari alamat Rumah Cahaya ternyata kertas tulisan alamat itu hilang. Ditambah lagi banyak kegiatan yang memperlambat usahanya mencari alamat rumah cahaya.
Akhirnya keinginan mencari alamat itu beliau hentikan sejenak sampai suatu ketika ketika bulan Ramadhan beliau pulang ke rumahnya dan menemukan buku FLP yang sudah ia beli 3 tahun yang lalu, namun beliau tidak tahu ternyata itu buku terbitan LPPH, beliau hanya membacanya sekilas ketika pertama kali membelinya dan tidak melihat ada logo FLP didalamnya. Ketika Ramadhan kemarin beliau menemukan buku itu, beliau kembali teringat usahanya untuk mencari alamat FLP. Karena alamat Rumah Cahaya yang diberikan redaksi Kompas hilang, beliau beralih mencari alamat LPPH.
Beliau mencari alamat yang tertera pada buku. Alamat yang beliau dapatkan adalah alamat LPPH diwilayah Duren Sawit. Dengan menggunakan motor kesayangannya beliau berkeliling di daerah Duren Sawit namun orang sekitar yang ditanyakan alamat LPPH tidak mengetahui keberadaan LPPH. Beliau berkeliling dan terus mencari alamat LPPH hingga akhirnya beliau pulang tanpa hasil apa-apa.
Kemudian setelah berusaha mencari tanpa hasil yang memuaskan, beliau meminta kepada rekannya yang ahli computer (internet) untuk mencari keberadaan FLP di wilayah JABODETABEK, wal hasil beliau mendapatkan alamat beberapa FLP yaitu Bekasi, Duren Sawit dan Depok.
Beliau memilih FLP Depok yang keberadaan dekat dengan rumah beliau, kemudian beliau menelepon ke CP yang tertera pada website tersebut. Dan ternyata nomer tersebut aktif namun sayang beliau tidak sempat atau lupa menanyakan nama orang yang ditelepon. Namun jawaban yang didapat dari CP tersebut beliau akan diinfokan jika ada kegiatan lagi di FLP Depok.
Usaha beliau tidak sampai disitu saja, setelah mencari lagi akhirnya beliau mendapatkan alamat Rumah Cahaya dan secretariat FLP Depok yang terletak di daerah depok II jalan keadilan Raya. Setelah dapat beliau memutuskan untuk segera mencari alamat yang dimaksud.
Malamnya, sehari sebelum beliau datang ke Rumah Cahaya beliau bermimpi menuju Rumah Cahaya namun dalam mimpinya Rumah Cahaya adalah salon tempat potong rambut. Beliau disana bertemu dengan Tante-tante yang menanyakan maksud kedatangan beliau ke Rumah Cahaya ini. Dalam mimpinya beliau menanyakan “apakah disini tempat untuk belajar menulis?” tapi tante-tante itu menjawab ini bukan tempat menulis, ini salon kecantikan. Bapak mau di creambath atau di potong rambutnya. (Saya yang mendengarkan kisah dari beliau tertawa terbahak-bahak… :D ) Apalagi beliau dalam mimpinya bertemu dengan seorang ibu-ibu yang menurut beliau suka sama beliau dan menanyakan kepada beliau “Kenapa tidak jadi teman facebook saya?” setelah ditanyakan ini itu beliau jadi pusing didalam mimpinya padahal niatan dalam mimpinya beliau ingin menuju Rumah Cahaya tempat belajar menulis bukan salon. Akhirnya beliau tersadar dari mimpinya.
Walaupun semalam telah mengalami mimpi yang cukup aneh, beliau tetap menguatkan tekad untuk mencari alamat Rumah Cahaya dan Sekretariat FLP Depok. Dengan menggunakan motor, beliau melalui jalan yang sangat berliku, karena beliau sama sekali belum kenal daerah dimana alamat Rumah Cahaya berada. Beliau menanyakan keberadaan Rumah Cahaya dan FLP Depok kepada orang yang tinggal dijalan keadilan Raya, namun anehnya tidak ada yang mengetahui alamat yang dimaksud, beliau Tanya tukang becak katanya tidak tahu, beliau Tanya pemilik warteg katanya tidak tahu, beliau padahal sudah berputar-putar di depan Ruko Rumah Cahaya, tapi tidak ada orang yang tahu keberadaan Rumah Cahaya atau Sekretariat FLP Depok. Ketika hamper putus asa, beliau beristirahat disamping Ruko dan menanyakan kepada Bapak-bapak yang sedang duduk disampingnya tentang alamat Rumah Cahaya. “Loh Ruko yang bapak maksud itu ya ini.. ini Rumah Cahaya “ kata salah satu bapak yang menjawab pertanyaan beliau. Alhamdulillah, akhirnya beliau sampai juga di Rumah Cahaya setelah tadi sempat berputar-putar dan sempat ingin menyerah mencari alamat Rumah Cahaya.
Namun kebingungannya tidak sampai disitu setelah beliau memarkirkan motornya di Rumah Cahaya beliau masuk ke Ruko bawah dan menanyakan “Apakah disini secretariat FLP Depok?” , ternyata beliau baru tahu bahwa secretariat FLP depok ada dilantai atas Ruko Rumah Cahaya bukan dibawah. Dengan tampang kelelahan dan sedikit kebingungan takut kalau salah alamat lagi beliau akhirnya sampai di sekretariat Rumah Cahaya bertemu dengan kami yang kebetulan sedang berada disana (Aku, Mba Bening dan Mba Pita). Dan beliau menanyakan kepada kami bagaimana caranya bergabung menjadi Anggota FLP. Akhirnya beliau bisa sharing dengan kami di Rumah Cahaya yang ia cari-cari sekian lama hingga jatuh bangun. Ketika itu mba pita menjelaskan tentang recruitment anggota baru, yang lucu ketika beliau diterangkan oleh mba Pita tentang BATRE beliau selalu menyebut BATRE dengan nama BATU CAS… :D.
Dari pengalaman beliau mencari Alamat FLP, Aku kembali tersadarkan tentang arti sebuah semangat dan Takdir. Semua telah digariskan Yang Maha Kuasa. Adanya kita disini dan dimana kita nanti telah ditulis jelas olehNya. Manusia hanya bisa berusaha dan mengusahakan yang terbaik. Semangat Pak Reddy semoga bisa ikut BATRE 10.
Hidup BATU CAS!!
Salam Pekik Bayumukti Utomo.. ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)